Tampilkan postingan dengan label Social. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Social. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 November 2011

Ras Suku Tertua di Dunia ( Suku Kerinci ) !"


PENELITI antropologi urban dari Universitas Diponegoro Radjimo menyatakan suku Kerinci yang mendiami dataran tinggi bukit barisan di sekitar Gunung Kerinci ternyata lebih tua dari suku Inka, Indian di Amerika.
Profil Singkat

"Dari sebuah kesimpulan riset Dr Bennet Bronson peneliti dari AS bersama Tim Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta pada 1973, yang saya baca malah berpendapat bahwa suku Kerinci bahkan jauh lebih tua dari suku Inka (Indian) di Amerika," katanya, di Jambi, Sabtu (21/5).
Hal itu berarti suku Kerinci tidak hanya lebih tua dari proto-melayu. Suku Indian Inka sendiri adalah suku yang salah satu ramalan purbanya tentang kiamat 2012 jadi inspirasi film Hollywood yang menghebohkan pada 2009 lalu. Suku India Inka diyakini sebagai suku purba yang telah memiliki peradaban tinggi.

Radjimo mengungkapkan, salah satu pembuktian yang dikemukakan tim Bennet Bronson
itu adalah tentang manusia Kecik Wok Gedang Wok. Ia merupakan suku pertama yang telah mendiami dataran tinggi Kerinci lebih dari 10.000 tahun lalu itu. Suku itu belum mempunyai nama panggilan secara individu sampai masuknya suku Proto-Melayu.

"Sedangkan suku Indian Inka di Amerika yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu suku dan ras tertua di dunia diketahui pada zaman yang sama sudah memiliki nama, seperti Big Buffalo (Kerbau Besar), Little Fire (Api Kecil) dan lainnya," terang Radjimo. 
Beberapa penelitian menyebutkan bahawa orang Kerinci termasuk kelompok suku bangsa asli yang mula-mula ada di Sumatra. 
Peneliti kebudayaan Kerinci, Iskandar Zakaria, mengungkapkan, keberadaan Suku Kerinci Provinsi Jambi yang menghuni dataran tinggi puncak Andalas perbukitan barisan jauh lebih tua dari Proto-Melayu yang dianggap sebagai suku Melayu tertua.
"Para antropolog beranggapan bahwa Suku Kerinci adalah bagian penting dari jejak sejarah dan peradaban Proto-Melayu yang merupakan suku Melayu tertua atau angkatan pertama mendiami daratan Sumatera," kata Iskandar Zakaria di Kerinci, Rabu (18/5/2011).
Peneliti kebudayaan Kerinci kelahiran Sumatera Barat tersebut mengatakan, bukti temuan artefak purbakala yang berhasil ditemukan dan sudah ada selama 40 tahun menunjukkan bahwa sesungguhnya Suku Kerinci itu jauh lebih tua dari Proto-Melayu.
Pihaknya berkeyakinan tentang apa yang tercantum dalam salah satu sko (benda pusaka) berupa tambo adat dan silsilah suku Kerinci yang mereka jadikan riset.
Pada ribuan tahun sebelum Masehi, gelombang pertama para imigran suku Proto-Melayu dari Yunan China Selatan atau Hindia belakang berdatangan ke puncak Andalas.
Saat itu, rombongan para pendatang sudah menemukan adanya manusia di daerah tersebut, tepat di sekitar gunung berapi yang diyakini adalah Gunung Kerinci.
Tidak hanya itu, manusia purba di Kerinci itu pun dikatakan memiliki pengetahuan dan peradaban lebih tinggi dari mereka. Suku setempat tersebut sudah mengenal api dan mampu mengolah serta memanfaatkan besi atau logam.
"Dikisahkan, konon, saat itu orang pertama atau penduduk pribumi itu menggunakan kayu siegie (pinus merkusi, Strain Kerinci) yang memang mengandung getah minyak yang bisa terbakar sebagai obor. Begitu juga mata tombak yang dari batu dan logam. Oleh karena itu, mereka bisa membangun artefak batu menjadi sarana berbagai keperluan, seperti untuk altar persembahan, untuk peristirahatan, dan lainnya," papar Iskandar.
Salah satu bentuk artefak peninggalan zaman megalitikum tersebut adalah batu-batu berupa dudukan kursi, bangku, batu pintu atau menyerupai gapura, tungku atau altar, serta sarkofagus yang kesemuanya diperkirakan hanya melalui proses pemahatan sangat sederhana dan kasar.
Batu-batu tersebut ditemukan banyak tersebar di daerah berbukit-bukit atau dataran tinggi di berbagai kecamatan, baik dalam Kabupaten Kerinci maupun Kota Sungaipenuh seperti di Kecamatan Gunung Raya, Keliling Danau, Batang Merangin, Sitinjau Laut, Danau Kerinci, Kumun-Debai.
Kondisi demikian meliputi desa-desa seperti di Muak, Benik, Jujun, Pulau Sangkar di Gunung Raya, Hiang Tinggi, dan di Kumun.
Dalam perjalanan perkembangan peradaban berikutnya yang lebih muda dapat ditemukan pula batu-batu Seilindrik dan batu bergambar, juga menhir-menhir dan gua-gua.
Dari semua itu diyakini bahwa perkakas yang digunakan sudah semakin maju, berupa kapak, pahat, baji, dan beliung dari besi.
Bahkan, tambahnya, dengan benda-benda purbakala itu sebagian masyarakat adat di Kerinci berani beranggapan kalau sesungguhnya mereka dulu adalah satu dari keturunan sepasang umat Nabi Nuh AS. Mereka diturunkan dari kapal Nabi di dataran tinggi Kerinci ketika air laut mulai surut, untuk membangun peradaban di kawasan tersebut.
Gigi dan fosil dalam ukuran raksasa diduga milik manusia atau makluk purba Homo Kerinciensis ditemukan warga di Desa Kumun Hilir, Kecamatan Kumun-Debai, tiga kilometer dari pusat Kota Sungaipenuh. Terungkapnya fakta tersebut belakangan ini semakin memperkuat asumsi dugaan dan perkiraan itu.
"Kalau temuan fosil dan gigi tersebut berhasil disimpulkan laboratorium kepurbakalaan di Jakarta, maka sudah dapat dipastikan bahwa itu adalah salah satu bukti dan fakta kuat bagi mata rantai peradaban tua Suku Kerinci yang diyakini jauh lebih tua dari Proto-Melayu," ungkapnya.
Ia memperkirakan, gelombang Proto-Melayu datang pada rentang waktu beberapa abad sebelum Masehi. Sementara itu, suku purba Kerinci sudah mendiami daratan tersebut ribuan tahun sebelumnya.
Maka saat itulah pula terjadi perpindahan etnis ini dari satu tempat ke tempat lain pada Alam Melayu seperti perpindahan Proto Malaiers (Melayu Tua) ke Alam Kerinci.

Menurut Kern, alam Kerinci saat itu telah didiami oleh manusia, dan mereka penduduk pribumi inilah yang disebut sebagai Kecik Wok Gedang Wok.

Namun, saat itu jumlah Proto-Melayu yang lebih dominan dari Kecik Wok Gedang Wok menyebabkan kaum pribumi tersebut secara perlahan menjadi lenyap dalam percampuran darah antara pendatang dan pribumi.

Kelompok suku bangsa ini kemudian dikenal dengan Kecik Wok Gedang Wok yang diduga telah berada di wilayah Alam Kerinci semenjak 10.000 tahun silam (Whitten, 1987).
 
Hal lain yang sering dijadikan sampel penelitian oleh pada peneliti tersebut adalah keragaman bahasa dan dialek di Kerinci. Dengan bahasa yang sangat beragam, sekitar 135 buah dialek, yang dipakai hanya di sepanjang lembah, memperumit penelitian etnografi.  

Kelompok inilah yang selanjutnya berkembang dan menjadi nenek moyang orang Kerinci modern hingga generasi saat ini.
 

By : Berbagai Sumber

Selasa, 08 November 2011

Orang Indonesia Lebih Bahagia Daripada Orang Hongkong


Menurut hasil catatatan survey, sebanyak 84,7% rakyat Indonesia mengaku bahagia. Hal itu terungkap dalam survei yang dilakukan oleh lembaga Lingkaran Survei Indonesia (LSI).
Hasil survei menunjukkan sebanyak 14,2% rakyat Indonesia menyatakan sangat bahagia dan 70,5% mengaku cukup bahagia. Apabila digabungkan, total sebanyak 84,7% merasa bahagia. Adapun yang mengaku kurang bahagia dan tidak bahagia sama sekali secara keseluruhan sebesar 12,2%.
Dari hasil survei tersebut, Direktur Lingkaran Survey Kebijakan Publik (LSKP) LSI Group, Sunarto Ciptoharjono mengatakan ada beberapa faktor penting yang dapat menjelaskan alasan seseorang merasa bahagia.
“Pertama, kualitas kesehatan. Orang yang merasa sehat dan tidak mengalami gangguan kesehatan, semakin merasa bahagia. Kedua, keamanan. Orang yang merasa bahwa lingkungannya aman, akan merasa lebih bahagia. Ketiga, uang atau pendapatan. Orang yang punya pendapatan cukup, merasa lebih bahagia,” terang Sunarto dalam sebuah kesempatan.
Survei ini diadakan pada awal Oktober 2010 dengan populasi nasional dan menggunakan metode penarikan sampel Multistage Random Sampling (MRS). Jumlah sampel 1.000 orang dengan tingkat kesalahan sampel (sampling error) plus minus 4%. Tingkat kebahagiaan umumnya diukur dengan dua metode, yakni objektif dan subjektif.
Metode objektif dilakukan dengan mengumpulkan dan menghimpun data menyangkut kualitas kehidupan publik suatu negara seperti jangkauan asuransi kesehatan, kualitas lingkungan dan, air bersih. Adapun metode subjektif dilakukan dengan meminta publik menilai sendiri kehidupan mereka. Survei LSI ini menggunakan metode subjektif.
Sunarto mengungkapkan, apabila dibandingkan dengan negara-negara yang pernah disurvei World Value Survey (WVS), Indonesia berada di posisi ke-32. “Indonesia menempati posisi ke-32 dari 57 negara yang pernah disurvei WVS,” ungkapnya.
Selandia Baru berada di urutan teratas dengan 97,3% penduduknya mengaku sangat atau cukup berbahagia. Kemudian disusul Kanada, Norwegia, Swedia, dan Malaysia. Namun, Indonesia berada di atas Hongkong, Jerman, dan China. “Yang menarik, kita lebih bahagia bila dibandingkan dengan Hongkong dan Jerman,” kata Sunarto. Survei LSI mengadopsi metode yang sama dengan yang digunakan WVS.
Sunarto menegaskan bahwa hasil survei ini tidak bisa dijadikan ukuran bahwa kebijakan pemerintah sudah berhasil. “Karena parameter kita adalah parameter yang subjektif, faktor perasaan. Kita cuma melihat tingkat kebahagiaan berdasarkan pengakuan responden,” jelasnya.
Metode subjektif, sambung Sunarto, berbeda dengan human development index. “Kalau human development index itu dari kebijakan pemerintah, tingkat mortalitas, tingkat kematian bayi, dan lain-lain. Kalau ini tidak, ini berdasarkan perasaan subjektif. Dalam kondisi apapun, kalau dia merasa bahagia, ya sudah,” pungkasnya.

By Sumber : http://kampungtki.com/baca/24011